Kamis, 07 April 2011
Rabu, 23 Maret 2011
Keluarga Kaya RI Bantu Jepang Rp 7 M
Keluarga Kaya RI Bantu Jepang Rp 7 M
Editor: Heru Margianto
Kamis, 17 Maret 2011 | 09:47 WIB
Dibaca: 35256
Komentar: 144
TERKAIT:
Demikian diwartakan Kantor Berita Jepang Kyodo, Rabu (16/3/2011). Low Tuck Kwong adalah pemilik perusahaan tambang PT Bayan Resources. Majalah bisnis Amerika Forbes menyebut Low Tuck Kwong sebagai orang terkaya ketiga di Indonesia. Kekayaannya mencapai 3,6 miliar dollar AS atau sekitar Rp 32,4 triliun.
Low Tuck Kwong lahir di Singapura dan pindah ke Indonesia tahun 1972. Saham perusahaan tambangnya sudah meningkat tiga kali lipat dibanding saat IPO tahun 2008. Belum lama ini Bayan mengeluarkan 270 juta dollar AS untuk mengakuisisi tambang Australia. Ia juga memiliki saham di Manhattan Resources dan Singapore HealthPartners.
Menurut Kyodo, keluarga Low Tuck Kwong memiliki banyak teman di Jepang. Disebutkan pula, keluarga konglomerat ini memiliki banyak kenangan di Tohuku, salah satu wilayah yang mengalami kerusakan parah akibat gempa 9 SR dan terjangan tsunami.
Sementara itu, pada hari yang sama di Jakarta, Pemerintah Indonesia memberi bantuan dana senilai 2 juta dollar AS atau sekitar Rp 18 miliar kepada Pemerintah Jepang. Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa menyampaikan hal tersebut di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, seusai bertemu dengan Wakil Menteri Luar Negeri Jepang Makiko Kikuta.
Menurut Marty, selama ini Pemerintah Jepang kerap membantu Indonesia saat tertimpa bencana. "Oleh karena itu, sangat wajar ketika kali ini bangsa Jepang terkena musibah, pemerintah dan rakyat (Indonesia) memberi bantuan kepada Jepang dengan tanggap dan cepat," ujarnya.
Inilah Kisah Para Korban
Inilah Kisah Para Korban
Editor: Egidius Patnistik
Rabu, 16 Maret 2011 | 07:56 WIB
Dibaca: 25442
Komentar: 6
Foto:
SEORANG perempuan berusia 70 tahun ditemukan hidup, empat hari setelah gempa dan tsunami mengguncang Jepang. Juru bicara Dinas Pemadam Kebakaran Osaka, Jepang barat, Yuko Kotani, mengatakan, perempuan itu ditemukan di dalam rumahnya yang tersapu tsunami di Prefektur Iwate, Jepang timur laut. Para petugas penyelamat dari Osaka dikirim ke daerah itu untuk operasi penyelamatan.Perempuan tersebut, namanya tidak disebutkan, sadar, tetapi menderita hipotermia dan sedang dirawat di rumah sakit. Berita penyelamatannya itu merupakan kabar menggembirakan di antara kisah-kisah sedih korban bencana. Dua hari sebelumnya, seorang pria berusia 60 tahun diselamatkan dari atap rumahnya yang terseret dan mengapung di laut. Hiromitsu Shinkawa ditemukan oleh kapal perusak Kementerian Pertahanan Jepang sekitar 15 kilometer dari pantai.
Rumah Shinkawa di kota Minami Soma, Prefektur Fukushima, tercabut dari fondasinya dan tersapu ke laut oleh arus balik tsunami. Dia terlihat melambai-lambaikan sepotong kain merah sambil berpegang erat pada reruntuhan rumahnya. Shinkawa mengatakan, tsunami menghantam saat dia dan istrinya kembali ke rumah untuk membawa beberapa harta benda setelah gempa. Istrinya tersapu dan hilang.
”Beberapa helikopter dan kapal lewat, tetapi melihat saya. Saya kira hari itu akan menjadi hari terakhir dalam hidup saya,” kata Shinkawa, dikutip oleh seorang juru bicara badan pertahanan. ”Saya lari setelah mendengar tsunami datang, tetapi kembali lagi untuk mengambil sesuatu dari rumah. Saya selamat karena berpegang erat pada atap rumah saya,” ujarnya lebih lanjut.
Shinkawa dilaporkan dalam kondisi baik setelah dibawa ke rumah sakit dengan helikopter.
Para lansia pun selamat
Kaori Ohashi juga selamat dari bencana alam gempa dan tsunami itu. Ohashi menyaksikan dengan kengerian saat gelombang lumpur penuh puing menghantam rumah-rumah dan meratakan ladang-ladang. Dia bergegas ke arah rumah perawatan lansia tempatnya bekerja.
Dia melihat mobil-mobil dan pengemudinya terlempar oleh arus air yang mengamuk itu. Korban-korban lain berpegang erat pada pohon-pohon sebelum tsunami menyeret mereka. ”Saya kira hidup saya selesai,” kata Ohashi saat menceritakan kisah dua malam yang mengerikan terperangkap di dalam panti dengan 15 tenaga staf dan 200 lansia setelah bencana hari Jumat lalu itu.
Ohashi (39), ibu dua anak, kini tinggal di sebuah sekolah di Sendai, ibu kota Prefektur Miyagi, bersama 400 pengungsi lainnya. Setiap kali gempa susulan mengguncang gedung, dia melompat untuk memeluk putrinya yang berusia dua tahun.
Hari Jumat, saat lantai satu dari panti itu dipenuhi air berwarna gelap, Ohashi dan rekan-rekan kerjanya berjuang membawa para lansia ke lantai dua dan tiga.
Ohashi dan rekan-rekannya terus sibuk mengurus para lansia itu, memberi mereka makan sedikit tuna kaleng dan sedikit roti dengan senter. Dalam gelap gulita, para tenaga staf membantu para lansia tidur di tikar.
”Kami dalam isolasi total. Kami takut meninggalkan panti karena tsunami dan gempa bisa sewaktu-waktu terjadi,” kata Ohashi yang kemudian bisa menghubungi putranya yang berusia 12 tahun lewat telepon seluler.
Hari Minggu, saat air sudah surut, sebuah tim penyelamat darurat tiba di rumah perawatan itu. Mereka membuka jalan bagi para lansia untuk menyelamatkan diri. Tak ada yang cedera.
Ohashi bertemu keluarganya di tempat penampungan di Sendai. ”Saya begitu gembira melihat putra dan putri saya. Saya tak punya kata-kata untuk mengungkapkannya. Saya begitu bahagia,” ungkapnya. (AP/AFP/DI)
Ditawari Jadi CPNS, 500 Warga Tertipu
Ditawari Jadi CPNS, 500 Warga Tertipu
Penulis: Adi Dwijayadi | Editor: Aloysius Gonsaga Angi Ebo
Rabu, 9 Februari 2011 | 22:35 WIB
Dibaca: 836
Komentar: 2
shutterstock
Ilustrasi CPNS
TERKAIT:
"Saya sudah menjalankan ini selama satu tahun dari 2009," kata Dimyatin saat ditemui di Unit II Jatantras Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (9/2/2011).
Pria asli Bima (Nusa Tenggara Barat) ini sudah memalsukan 20 SK pengangkatan CPNS dengan kop Kementerian Perhubungan. Untuk meyakinkan para korbannya, Dimyatin mengaku menjabat ketua umum sebuah LSM bernama Peduli Rakyat Tani Indonesia.
"Saya meminta uang dari mereka (korban) Rp 20 juta sampai Rp 30 juta," jelas pria beristri 3 dan tujuh anak ini.
Ia kemudian memanfaatkan jaringan di LSM yang berdiri di Sulawesi Selatan itu untuk mencari para korban melalui anak buahnya yang tersebar di Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jabodetabek.
"SK palsu ini dibuat untuk menarik uang dari bawah," ujarnya.
Namun, sarjana lulusan sebuah universitas di Sulsel ini mengaku dirinya tak punya jaringan di departemen-departemen. Dimyatin hanya mengusahakan mereka yang memohon bantuan kepadanya, meski memang tak ada satupun yang masuk jadi PNS.
Selama setahun melakukan aksinya, Dimyatin mampu menangguk uang antara Rp 300-400 juta. Dia terancam dengan pasal 263 dan 378 KUHP mengenai penipuan dan pemalsuan dengan ancaman 10 tahun penjara.
Bupati Pidato, Camat Tonton Video Porno
Bupati Pidato, Camat Tonton Video Porno
Editor: Glori K. Wadrianto
Minggu, 20 Maret 2011 | 12:23 WIB
Dibaca: 60067
Komentar: 213
Foto:
MALANG, KOMPAS.com — Tingkah para pejabat kini semakin aneh saja. Mereka seolah tak sadar ada etika dan kepatutan yang mesti dijaga. Seperti terjadi di Kabupaten Malang, saat bupati berpidato, dua camat malah asyik menonton video porno. Terlalu!Peristiwa yang terjadi di sela-sela sidang paripurna pembahasan empat rancangan peraturan daerah (raperda) di Gedung DPRD Kabupaten Malang, Senin (14/3/2011), itu tidak sengaja terekam kamera wartawan yang meliput dari balkon. Namun, kasus itu baru terungkap pada Jumat (18/3/2011).
Entah, mungkin terlalu jenuh karena lama mendengarkan pidato pandangan Bupati Rendra Kresna dan fraksi-fraksi, di sela-sela acara serius itu, dua camat dan seorang pejabat setempat mencari hiburan dengan menonton film porno.
Awalnya, salah satu oknum camat yang baru dilantik pada 7 Januari 2011 lalu itu tiba-tiba mengeluarkan sebuah BlackBerry (BB) dari saku celananya. Entah siapa pemilik BB tersebut, tak berapa lama, ia kemudian memutar sebuah file film porno.
Dasar mungkin karena punya pikiran yang sama, camat yang berada di sebelahnya rupanya tak mau ketinggalan. Ia kemudian memindahkan pandangannya dari sudut depan, tempat Bupati Rendra berpidato, ke arah film tersebut. Begitu juga pejabat sebelahnya. Dengan demikian, kompaklah ketiganya menikmati film tersebut.
Deretan tempat duduk para pejabat negara itu kebetulan memang hanya diisi oleh empat orang sehingga tak sampai menimbulkan kegaduhan.
Ketiganya terlihat asyik menonton, meski sekilas seperti memerhatikan pembahasan raperda.
Seorang pejabat di sebelah camat pemilik BB itu sempat mengingatkan dengan cara menepuk tangannya agar tidak menunjukkan video itu. Dia juga tampak berusaha meminta agar film di BB itu segera dimatikan. Apalagi di belakang tempat duduk mereka juga ada pimpinan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) lainnya yang serius mendengarkan raperda.
Namun, camat tersebut terlihat masih asyik. Maklum, cara menonton film itu memang tidak mencolok. Sang camat memperlihatkannya di bawah meja. Namun, karena layar ponsel itu lebar, maka gambarnya juga sangat jelas. Oleh karenanya, tiga pejabat di satu deret tempat duduk itu bisa nonton bareng.
Mungkin karena sudah selesai, camat pemegang ponsel yang diduga berasal dari Malang di bagian timur ini tak lama kemudian mematikan film. Ia keluar dari ruangan menuju kamar kecil dan tidak kembali lagi.
Bupati Malang Rendra Kresna pun sangat menyesalkan kejadian itu. "Seharusnya pembahasan raperda disimak karena itu juga penting bagi mereka. Saya tidak memungkiri kalau ada individu yang pasti memiliki koleksi film seperti itu di ponselnya. Namun, kalau memutar film itu dalam sidang paripurna, ya salah tempat," kata Rendra Kresna menjawab Surya, Jumat malam.
Ia menyatakan, kesalahan ada pada masalah etika. Tidak seharusnya pejabat publik melakukan hal itu di gedung wakil rakyat, saat membahas masalah serius.
Rendra mengatakan, empat hal yang dibahas saat itu merupakan bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Malang yang harus diketahui para pejabat yang hadir dalam sidang itu.
Dari rekaman gambar yang diperoleh wartawan, tidak bisa dipastikan apakah Rendra sudah pasti mengetahui sosok yang dimaksud. Namun, dia memastikan akan memberikan sanksi kepada ketiga pejabat yang menonton film biru di ruang sidang. "Nanti biar ditangani oleh Inspektorat Kabupaten Malang," katanya.
Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Malang Purnomo Anwar berpendapat, sidang paripurna yang dimulai pukul 10.00 hingga 14.00 itu merupakan forum resmi yang harus disimak secara serius. Apalagi saat itu semua pejabat hadir, seperti bupati, wakil bupati, sekda dan para asistennya, pimpinan SKPD, serta semua camat dan pimpinan DPRD. Ini menunjukkan pentingnya acara itu.
"Memang kadang-kadang kalau kelamaan acaranya, timbul rasa mengantuk dan bosan. Itu manusiawi sekali. Tapi kalau sampai memutar film seperti itu di ruang sidang ya enggak etis," cetus politisi dari Partai Golkar ini.
Pengamat sosial dari Universitas Negeri Malang (UM), Marthein Pali, menilai, perilaku yang dilakukan camat dan pejabat tersebut merupakan hal tak terpuji. Apalagi mereka adalah pejabat negara. "Sebenarnya, ini masih dalam taraf kewajaran. Hanya, mengapa mereka melakukannya tidak pada tempatnya, yakni sewaktu mengikuti sidang paripurna DPRD Kabupaten Malang," katanya.
Dia mengatakan, menonton film porno dalam situasi seperti sekarang bukan barang yang aneh lagi. "Yang salah, dia tidak bisa menempatkan dirinya, itu saja," kata pria yang juga menjabat sebagai Direktur Pascasarjana UM ini.
Menurutnya, menonton video porno lewat ponsel saat sidang menunjukkan sang pejabat tidak memiliki komitmen terhadap profesinya. "Sebab, dia kan sedang berada dalam ruang sidang yang di sana juga dihadiri Bapak Bupati. Apalagi ini sidang untuk kepentingan rakyat," katanya.
Meski demikian, apa yang dilakukan oleh pelaku dengan menonton video porno tidak pada tempatnya ini, di mata Martheil, juga imbas dari makin modernnya teknologi. Jika ponsel dengan fasilitas video tidak pernah ada, barangkali perilaku menonton video di tempat sidang dan tempat lainnya tidak bakalan terjadi.
Apa yang terjadi di Malang boleh jadi memang manusiawi. Juli lalu, hal serupa juga terjadi di Lampung. Saat Bupati Way Kanan Tamanuri membacakan laporan keterangan pertanggungjawaban akhir masa jabatan, enam oknum camat asyik menonton video porno yang diperankan artis Indonesia.
Meski demikian, tentu saja ini harus menjadi pelajaran bersama bahwa tak sepatutnya pejabat pemerintah mengumbar kebiasaan yang kurang patut di sembarang tempat. (Sylvianita Widyawati /Eko Darmoko)
Bawa Sabu, Polisi di Pare-pare Dibekuk
Bawa Sabu, Polisi di Pare-pare Dibekuk
Editor: yuli
Rabu, 23 Maret 2011 | 05:46 WIB
Dibaca: 468
Komentar: 0
TERKAIT:
"Oknum anggota polisi itu didapati sedang membawa sabu-sabu bersama seorang temannya, Lo, warga Puncak, Kelurahan Binanga," kata Kapolres Mamuju, AKBP Darwis Rincing, Selasa (23/3/2011).
Ia mengemukakan, aparatnya telah mencurigai keduanya sedang membawa obat terlarang saat hendak kabur menggunakan mobil pribadi dari arah Jalan Urip Sumoharjo menuju Jalan Bau Massepe, namun keduanya tidak bisa melajukan kendaraan karena kondisi jalan yang rusak.
Darwis menuturkan, kemungkinan pertemuan kedua tersangka ini untuk melakukan transaksi Sabu-sabu. "Oknum polisi yang melakukan kegiatan ini telah mencoreng nama baik kepolisian sehingga tersangka ini harus mendapat hukuman setimpal sesuai dengan perbuatannya," katanya.
Ketua Pemuda Pancasila Juga Dikirimi Bom
Ketua Pemuda Pancasila Juga Dikirimi Bom
Editor: yuli
Rabu, 16 Maret 2011 | 01:31 WIB
TERKAIT:
"Benar, di rumah Pak Yapto juga dikirimi paket yang sama," tegas Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Baharudin Jafar kepada Tribunnews.com, Rabu (16/3/2011) dini hari.
Bom tersebut dilaporkan pihak keluarga Yapto sekitar pukul 21.00 WIB. "Setelah ada laporan ke Polres Jakarta Selatan, kami langsung ke TKP," jelas Baharudin. Rumah Yapto, menurut Baharudin, berada di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan.
Dengan demikian, pada Selasa (15/3/2011), tiga paket bom dikirim ke tempat terpisah di waktu yang sama, yakni kepada Ulil Abshar-Abdalla di Utan Kayu, Jakarta Timur, Kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional Komisaris Jenderal Gories Mere, dan ke rumah Yapto.
Langganan:
Postingan (Atom)